Pages

  • Home
  • Experience
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook linkedin twitter youtube
Izzulhaq Al Ma'ruf
    • TELADAN
    • MOTIVASI
    • EXPERIENCE
    • BOOK
    • CORETAN
    Halo  teman-teman !

    Kali ini aku berkesempatan untuk menulis sesuatu yang berbeda dan akan bermanfaat banget, terutama dalam merealisasikan tujuan hidup atau life purpose. Tulisan ini merupakan rangkaian dari penugasan Program Lead Others TELADAN 2019.  So, if you don’t have a life purpose yet, I recommend you to read this article.


    Bu Farida selaku GA di TELADAN Training 2019

    Bu Farida Mahri adalah founder dari Sekolah Alam Wangsakerta, yang menjadi inspirasiku untuk membuat tulisan ini. Sesuai visinya “Mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi dan mampu menentukan diri sendiri”, Sekolah Alam Wangsakerta didirikan atas dasar “bermanfaat untuk orang lain”. Sekolah ini dibentuk melalui grup diskusi yang kemudian berbuah menjadi sebuah sekolah yang mampu menghidupi desa melalui peningkatan kemampuan mengelola alam dengan tidak melupakan pendidikan. Terbukti walaupun bertajuk “sekolah alam”, Sekolah Alam Wangsakerta telah bekerja sama dengan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) untuk menyelenggarakan sekolah paket A, B, dan C sehingga siswa Sekolah Alam Wangsakerta yang sebelumnya pernah putus sekolah dapat melanjutkan pendidikannya.
    Sekolah Alam Wangsakerta. Source : kumparan.com

    Apa yang membuat Bu Farida tergerak bermanfaat untuk orang lain hingga mendirikan sekolah ini?

    “Hidup itu bukan hanya untuk diri sendiri”.

    Bu Farida menjelaskan bahwa sejak kecil beliau sudah ditanamkan oleh kedua orang tuanya untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga memikirkan orang lain. Hal tersebut mendorong beliau untuk pindah dari kota besar dan kembali ke daerah untuk membermanfaatkan diri untuk orang lain hingga akhirnya mendirikan Sekolah Alam Wangsakerta yang mampu mengelola tanah di sebuah desa yang tidak mendapatkan perhatian lebih, yang awalnya tanahnya tandus menjadi subur sehingga bisa ditanami.

    Lahan yang dikelola oleh Sekolah Alam Wangsakerta. source : instagram.com/farida.mahri

    Jika ditanya apakah perjalanan yang beliau lalui berlangsung dengan mulus, tentu jawabannya tidak. Banyak tantangan yang harus dihadapi seiring dengan perjalanan sekolah alam yang telah dirintis sejak 2017 ini, seperti ketidakpercayaan masyarakat sekitar akan keberlangsungannya. Namun Bu Farida percaya “Selama niatnya baik, seiring berjalannya waktu orang lain akan percaya dan mendukung”. Hal penting yang perlu ditanamkan adalah memastikan kita memiliki niat yang baik , tetap istiqomah dan percaya pada diri sendiri karena sejatinya pemimpin itu lahir dari kepercayaan dirinya yang besar.

    Sustainable Development Goals

    Perjalanan Bu Farida Mahri ini secara tidak langsung telah merespon poin-poin Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Beberapa poin tersebut adalah:

    1. No Poverty dan Decent Work and Economic Growth Melalui Sekolah Alam Wangsakerta ini, masyarakat setempat terutama pemuda diajak untuk belajar bersama memanfaatkan potensi alam yang ada di sekitar tempat tinggal mereka, yang pada akhirnya masyarakat dapat mandiri secara ekonomi. Secara tidak langsung, hal ini berdampak angka kemiskinan di daerah tersebut menurun dan pertumbuhan ekonomi meningkat.
    2. Quality EducationWalaupun bertajuk “sekolah alam”, Sekolah Alam Wangsakerta telah memiliki kurikulum sendiri dalam proses belajar mengajarnya. Pembelajaran tidak hanya tentang pengelolaan alam, tapi juga pengetahuan umum. Terbukti dari pemaparan Bu Farida terdapat siswa yang sebelumnya tidak bisa berbahasa Indonesia menjadi bisa berbahasa Indonesia. Selain itu, sekolah ini juga telah bekerja sama dengan PKBM untuk menyelenggarakan sekolah paket sehingga siswa yang sempat putus sekolah dapat melanjutkan pendidikannya.
    Kegigihan yang ditunjukkan oleh Bu Farida tentu menginspirasi banyak orang, bahwa tidak yang akhirnya memutuskan untuk kembali ke daerah (yang mungkin harus merelakan mimpi-mimpi besar untuk hidup elite) demi menghidupi desa. Dari perjalanan beliau, aku sangat terinspirasi untuk bergerak di bidang sosial juga terutama pendidikan. Aku sangat percaya bahwa pendidikan itu sangat penting sebagaimana yang disampaikan Nelson Mandela “Education is the most powerful weapon that you can use to change the world”. Pendidikan di daerah, terutama di desaku masih belum bisa dikatakan “inklusif” karena masih banyak yang belum bisa mengenyam pendidikan tinggi bahkan SMA dengan alasan ekonomi dan kurangnya motivasi.  

    Affordable and Clean Energy (SDGs-7)

    “Social and Science” is part of my soul, merupakan Life purpose yang ingin aku perjuangkan. Sebagaimana yang telah aku jelaskan bahwa aku ingin bergerak di bidang sosial sebagai pay it forward atas previlleges yang aku dapatkan, seperti bisa melanjutkan pendidikan di UGM, mendapatkan full scholarship dari Tanoto Foundation dan sebagainya. Namun sebagai mahasiswa program studi fisika, ada bagian yang perlu aku perjuangkan juga, bahwa “Sains itu lekat dengan kita”. Aku tertarik dengan isu energi terutama renewable energy sebagai respon dari isu SDGs poin ketujuh yaitu “affordable and clean energy” yang sebagaimana kita tahu isu ini tidak banyak disampaikan dan diperjuangkan.

    Program Mengajar di Bantul, DI Yogyakarta

    Hal yang pernah aku lakukan dalam rangka merespon isu tersebut bisa dikatakan belum masif sehingga masih perlu banyak aksi yang harus aku lakukan dalam memperjuangkan isu tersebut. Sejauh ini aku beberapa kali mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat, baik di daerah asal maupun di Yogyakarta. Pengabdian tersebut dalam bentuk bakti sosial, program mengajar hingga community development bidang sociopreneur yang saat ini sedang aku pelajari  melalui organisasi di kampus.

     
    Mengikuti International Science, Technology and Engineering Competition


    Di bidang sains, khususnya energi, belum banyak hal yang telah aku lakukan selain membuat tulisan dalam bentuk karya tulis atau esai yang kemudian aku suarakan melalui sebuah kompetisi. Selain itu, saat ini aku bersama teman satu fakultas sedang membuat official account di Instagram bertajuk “Sang Saintis” yang bertujuan mengedukasi para saintis dan calon saintis muda untuk mengembangkan potensi sebagai  mahasiswa sains yang diharapkan ikut menyuarakan isu-isu tentang sains dan mematahkan stigma bahwa “Sains itu hanya tentang rumus-rumus”.

    Jika ditanya tentang rencana di masa depan, tentu aku ingin terus memperjuangkan “social and science” dalam bentuk yang dapat diterima masyarakat. Rencana terdekat, aku bersama teman-teman seperjuangan ingin mengadakan sebuah program mengajar sains di daerah pelosok Yogyakarta di setiap weekend untuk mengajarkan sains baik sains secara teori, sains secara aplikasi maupun renewable energy pada anak-anak. Program ini diadaptasi dari program 1000 guru dimana mengajar sambil travelling. Nantinya melalui program ini (yang insyaAllah diadakan setelah pandemi berakhir dan kuliah normal) diharapkan mampu memberikan dampak positif terutama pada kompetensi saintek di daerah pelosok dan menginspirasi mahasiswa sains di seluruh Indonesia untuk melakukan aksi yang sama.

    Akhirnya, aku ingin menyampaikan terima kasih kepada Tanoto Foundation yang telah memberikan kesempatan untuk belajar bersama tokoh-tokoh penting yang semuanya memberikan insights yang luar biasa. Terima kasih kepada Ibu Farida Mahri atas pemaparan perjalanan menjadi “pejuang desa” yang sangat menginspirasi.

    Pesan dari Bu Farida untuk kita para mahasiswa “Jangan menjadi mahasiswa yang sibuk dengan diri sendiri hingga lupa meluangkan waktu untuk belajar bersama masyarakat”.

    -Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain-
    Continue Reading
    Selamat Hari Raya Idul Adha!

    Tahun ini adalah tahun keduaku merayakan momen Idul Adha jauh dari keluarga di Nganjuk. Aku yang notabene “anak rumahan banget” harus merelakan momen setahun sekali ini dan merasakan momen yang berbeda di tempat perantauan.
    Momen Idul Adha tahun lalu, berjalan menuju tempat salat Eid bersama para volunteer
    Oh ya, saat ini aku sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta dan sejak tahun kemarin harus merayakan Idul Adha di beberapa daerah di Yogyakarta. Tahun lalu, aku bergabung menjadi volunteer di salah satu kegiatan pengabdian masyarakat yang diinisasi oleh keluarga mahasiswa FMIPA UGM dan kegiatannya diadakan di daerah Gunungkidul. Tahun ini, aku memaksakan diri kembali ke Yogyakarta (setelah sebelumnya study from home selama 4 bulan) untuk memeriksa motor yang sudah lama kutinggalkan di asrama, mengikuti webinar dari Tanoto Foundation dan membawa barang-barang yang sekiranya perlu aku bawa ke Nganjuk untuk kuliah semester depan.
    Momen Idul Adha tahun ini. Salat Eid di jalan menuju masjid sebagai langkah guna memberlakukan physical distancing

    Apa sih yang membedakan momen Idul Adha di rumah dan perantauan?
    Karena tahun lalu aku bergabung di kegiatan pengabdian, perbedaannya ada di agenda dan cakupan kebermanfaatannya. Momen Idul Adha di rumah membuatku hanya merayakannya bersama keluarga, sedangkan tahun lalu aku bisa merayakannya dengan teman-teman seperantauan dan masyarakat setempat dimana aku bisa menebarkan kebermanfaatan.
    Mengabdi untuk warga desa

    Sedangkan tahun ini, aku bisa merayakannya dengan warga sekitar asrama dan teman-teman satu jurusan yang masih bertahan di Yogyakarta.

    Tapi selain perayaan, momen Idul Adha di perantauan juga memberikan insight yang berbeda tentang “Apa yang bisa dimaknai dari hari besar ini”, apalagi tahun ini momen hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) bersamaan dengan merebaknya wabah Coronavirus. Secara garis besar makna ini aku dapatkan dari khutbah yang disampaikan selepas salat Eid bahwa selama ini aku hanya memandang kisah Nabi Ibrahim dan Ismail yang seringkali disampaikan saat khutbah selepas salat Eid hanya dari satu perspektif saja. Sejatinya kisah tersebut memberikan banyak sekali perspektif dan pesan yang mungkin setiap orang bisa memiliki masing-masing perspektif tersebut.
    Idul Adha tahun lalu, bermain dan belajar bersama anak-anak SD setempat

    Momen Idul Adha tahun lalu memberikan pesan tentang keikhlasan. Bagaimana ketika kita sebagai hamba Allah ikhlas terhadap apa yang kita lakukan, baik itu yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, Allah akan memberikan balasan yang lebih dari apa yang kita bayangkan. Kata “ikhlas” ini tidak main-main loh dan tidak cukup hanya diucapkan “aku ikhlas lahir batin”. Ada konsekuensi dari “ikhlas” ini bahwa kita melaksanakannya dengan semata-mata karena Allah, mengharapkan ridha dari-Nya. It’s absolutely hard but we have to try in every second of our life.   

    Momen Idul Adha tahun ini memberikan insight baru bahwa melalui hewan Qurban yang disembelih, kita juga harus belajar untuk meninggalkan sifat-sifat hayawaniyah yang mungkin selama ini tidak sadar kita miliki. Hewan hanya diberikan hawa nafsu saja berupa nafsu untuk mencari makan dan nafsu seksual untuk mempertahankan hidup dan tidak diberikan akal sehingga hewan tidak perlu berpikir nih apakah makanan ini halal atau haram. Nah kita sebagai manusia yang diberikan dua previlleges berupa hawa nafsu dan akal seharusnya tidak bertindak seperti hewan dong bahwa setiap tindakan yang kita lakukan harus dipikirkan terlebih dahulu, dapat diterima akal sehat dan tidak sekadar memenuhi hawa nafsu sahaja. Memang kita mau disamakan dengan hewan yang hanya mengedepankan hawa nafsu saja?

    Lastly, sejatinya jika momen Idul Adha benar-benar dapat dimaknai dengan benar dan diresapi dalam hati sanubari seharusnya tidak ada lagi tindakan bodoh nan dzalim yang dilakukan oleh manusia. Manusia melakukan tindak dzalim tersebut menandakan sifat hawaniyah di dalam dirinya masih belum hilang. Sifat yang hanya mengedepankan hawa nafsu, mementingkan diri sendiri dan merugikan orang lain. What should we do? Yuk kita maknai momen berharga yang hadirnya hanya setahun sekali untuk bermuhasabah diri apakah sifat hawaniyah dalam diri kita masih ada atau sudah berusaha kita hapus. Jika masih ada, mari berusaha kita hilangkan. JIka tidak ada, mari kita pastikan tidak muncul kembali.
    Continue Reading

    Ilustrasi : Piper

    Manusia merupakan makhluk Tuhan yang sempurna. Makhluk yang dibekali akal pikiran dan hawa nafsu. Manusia diciptakan Tuhan dengan kelebihan dan kekurangan yang mana sebagai karakterisitik dan identitas tiap-tiap manusia. Kelebihan manusia merupakan aset dan potensi yang harus dikembangkan, sedangkan kekurangan merupakan hal yang tidak bisa dihilangkan, melainkan dapat dikurangi dan ditutupi dengan potensi yang dimiliki. Kita tidak dapat menafikan bahwa setiap manusia memiliki potensi luar biasa, namun terkadang potensi tersebut tidak disadari bahkan tidak diketahui. Kita pasti ingin mengetahui apa potensi yang kita miliki. Namun apakah potensi akan muncul begitu saja tanpa proses yang panjang?

    Belajar dari film pendek buatan Disney yang berdurasi kurang lebih enam menit “Piper” yang menceritakan burung Sandpiper di California yang dapat melawan rasa takutnya dengan terjangan ombak. Di hari pertama burung kecil belajar mencari makan, ia tergulung ombak sehingga membuatnya trauma, takut dengan air dan memutuskan untuk tidak beranjak dari sarang dan mendekati pantai lagi. Namun karena lapar, keesokan hari burung Piper ini memaksakan dirinya untuk keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dengan ketakutan dan trauma yang masih membayangi, burung Piper ini secara tidak sengaja melihat, belajar bagaimana cara Kelomang mencari makan dan menghindari terjangan ombak. Dengan pembelajaran luar biasa yang didapat, burung Piper ini sudah tidak takut dan trauma dengan ombak bahkan burung ini bisa berbagi makanan dengan kawanan Sandpiper dan terus mengumpulkan makanan hingga menjelang sore. Sebuah pesan berharga yang dapat diambil dari film Piper ini adalah kita sebagai makhluk yang berakal pikiran tidak diperkenankan untuk berhenti beradaptasi dan berusaha dalam menjalani kehidupan. Sekali dan dua kali takut itu biasa, namun jangan membuat ketakutan terus membayangi kita. Terkadang belajar dari apa yang kita amati di lingkungan dan meniru cara orang lain itu perlu. Jadi, jangan kekang diri kita dengan keterbatasan, jangan batasi diri kita untuk belajar dari lingkungan dan jangan menyerah dalam beradaptasi dan berusaha.

    Selain dengan melawan rasa takut yang kita miliki, dalam menggali potensi kita harus membiasakan diri dengan tiga aspek dapat diketahuinya masa depan seseorang. Tiga aspek tersebut adalah buku yang dibaca, seseorang yang ada di sekelilingnya dan sejauh mana dalam berpergian. 

    Buku merupakan sumber ilmu, sumber pengetahuan, dan sumber wawasan. Semakin banyak buku yang dibaca maka semakin banyak pengetahuan yang didapat. Semakin banyak pengetahuan yang didapat maka semakin luas pemikiran dan wawasan seseorang. Kita dapat menjamin bahwa seorang yang sukses tentu tidak melupakan buku dalam hidupnya. Mari sejenak kita melihat orang-orang yang ada disekitar kita. Apakah orang yang mendedikasikan buku dalam hidupnya sama dengan orang yang jarang membaca bahkan membuka buku? Tentu tidak. Perbedaan yang dapat dilihat adalah  segi intelektualitas. Seorang yang mendedikasikan buku dalam hidupnya akan memiliki wawasan dan pemikiran yang luas, sedangkan seorang yang jarang membaca buku tentu tidak akan memiliki wawasan seluas orang yang mendedikasikan buku dalam hidupnya. Namun apa semua buku sama? Tentu tidak juga. Genre dari buku sangat beragam. Oleh karena itu, untuk menambah wawasan dan pemikiran kita, biasakan untuk membaca buku  yang dapat membuka mata,  wawasan dan meralat apa yang sudah kita ketahui yang itu merupakan pengetahuan yang kurang benar. 

    “Jo takon songko wong siji takono kancane, kerana saktemene kanca manut kang ngancani”

    Syiir ‘Alala tersebut menjadi salah satu indikator seseorang dapat diketahui masa depannya. Orang-orang disekeliling kita baik itu teman, komunitas dan apapun itu akan menentukan masa depan kita. Masih hafal dengan hadits Nabi yang menjelaskan tentang ini? Seseorang yang berteman dengan tukang minyak wangi maka secara tidak langsung kita akan wangi, sedangkan dengan berteman dengan pandai besi maka secara tidak langsung juga kita akan ikut berbau gosong. Percaya atau tidak bahwa dengan kita sering bersama dan berkumpul dengan orang-orang sukses maka secara tidak langsung akan memotivasi kita untuk melebihi kesuksesannya. Namun dengan kita juga tidak boleh melupakan orang-orang sekitar termasuk orang yang lebih rendah dari kita baik dari segi jabatan, pendidikan dan sebagainya. Dengan berkumpul dengan orang yang lebih rendah akan menambah rasa syukur kita atas apa yang Allah anugerahkan. Hal terpenting dari semua itu adalah berusahalah untuk terus berkumpul dengan orang-orang baik, orang-orang sukses, dan orang-orang yang dapat menuntun kita pada kebaikan dan kesuksesan.

    Berbeda ndak sih orang yang telah sukses mengunjungi berbagai tempat dibandingkan dengan orang yang hanya di rumah saja?

    Indikator terakhir dapat diketahuinya masa depan seseorang adalah sejauh mana seseorang itu dalam berpergian. Dengan mengunjungi banyak tempat berbeda, secara tidak langsung kita telah mempelajari hal-hal baru, baik itu infrastruktur, kehidupan sosial, bahasa dan pengetahuan baru lainnya. Oleh karena itu, semakin beragam tempat yang kita kunjungi maka semakin luas pula wawasan kita yang mungkin belum diketahui orang lain.

    Dengan membiaskan diri kita dengan tiga aspek tersebut maka kita secara langsung telah menata masa depan kita. Kita membiasakan membaca buku wawasan baru sehingga membuat pola pikir kita terbentuk. Kita membiasakan berkumpul dengan orang-orang sukses sehingga mencambuk kita untuk mencapai kesuksesan. Kita membiaskan berpergian sehingga menambah wawasan akan struktur sosial tempat yang kita kunjungi. Namun kesekian dari pembahasan tersebut adalah modal dalam menggali potensi. Lalu bagaimana cara kita menggali potensi kita?

    1.       Mendekatkan diri kepada Allah SWT

    Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Terus mendekat kepada Allah SWT dan tidak berhenti berharap. Allah akan mengetahui hambaNya yang sungguh-sungguh dan membukakan hidayah bagi orang-orang yang tidak berhenti berharap padaNya.

    2.      Fokus pada keahlian yang kita miliki

    Kita tidak dapat menolak bahwa semua makhluk Tuhan diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan. Keahlian merupakan wujud konkret dari kelebihan yang dimiliki seseorang. Sehingga tidak mungkin seseorang hidup tanpa keahlian meskipun itu kecil. Keahlian juga dapat diartikan sebagai salah satu potensi sehingga dengan kita terus memfokuskan diri pada keahlian kita maka kita secara tidak langsung menggali potensi yang kita miliki.

    3.       Menyusun strategi

    Banyak jalan menuju roma, banyak strategi pula yang dapat ditempuh seseorang dalam mewujudkan cita-cita. Strategi yang tepat akan membawa kita pada tujuan yang kita inginkan.

    4.       Memaksimal peran

    Kita hidup di dunia dengan menjalani sebuah peran yang dianugerahkan Allah. Peran yang sedang kita jalani sekarang harus benar-benar kita nikmati, jalani dan kita pelajari secara maksimal. Jangan sia-siakan peran kita saat ini karena tidak akan ada kesempatan kedua atau orang kekinian menganggapnya “Limited Edition”. Anggap peran yang sedang kita lakukan adalah jalan kita menuju tujuan yang kita harapkan. Tentu kita tidak akan menyia-nyiakan bukan? 

    Sebuah penghargaan yang berharga atas kelebihan dan kekurangan yang Allah berikan kepada hambaNya. Dengan kelebihan, seorang hamba akan memaksimalkannya dan menjadikannya potensi dan keahlian yang dimiliki. Dengan kekurangan, seorang hamba akan tetap bersyukur atas anugerah Allah dengan tidak meninggikan hati dan merendahkan orang lain. Potensi sebagai wujud dari kelebihan yang dimiliki seseorang terkadang belum diketahui oleh sebagian besar individu. Alasan yang mungkin melatar belakangi ini adalah rasa takut serta tidak mau beradaptasi dan berusaha. Banyak sekali mereka yang masih takut untuk keluar dari zona aman dan nyaman mereka sehingga terkesan seperti dimanjakan. Namun semua orang juga memiliki tujuan dan cita-cita. Alasan inilah yang seharusnya mampu membangkitkan seseorang untuk melawan rasa takut, terus berusaha dan beradapatasi, tidak membiarkan diri kita dalam keterbatasan, dan keluar dari zona aman dan nyaman untuk meraih ribuan prestasi.







    Continue Reading


    Source : https://cdn.brilio.net/news/2016/04/21/56202/10-ilustrasi-ini-bedakan-karakter-calon-sukses-dan-calon-gagal-1604215.jpg

    “Berhadapan dengan tantangan, bukanlah hal baru bagi seorang pemimpi”

    Semua orang tentu memiliki mimpi dan impian. Semua orang tentu menginginkan impiannya terwujud. Namun kebanyakan orang memiliki impian tanpa tahu bagaimana  cara merealisasikannya dan yang lebih parah lagi, tidak tahu bagaimana cara memulai meraih impian tersebut. Mereka kadang bercermin pada kesuksesan orang lain dan berharap memiliki kesuksesan yang sama. Padahal impian yang besar berawal dari tekad yang besar. Dengan tekad yang besar, kita akan  termotivasi untuk mewujudkan impian yang besar pula.

    Tekad merupakan keinginan yang besar yang diringi dengan kesungguhan. Bertekad bukan berarti hanya mengucapkan “Saya bertekad” di lisan saja, melainkan menancapkan keinginan besar kita dengan dilandasi kesungguhan dan usaha yang nyata. Bersungguh-sungguh berarti tidak main-main dalam berproses meraih impian. Usaha nyata berarti tidak melakukan hal sia-sia untuk mewujudkan impian. sehingga dapat dikatakan bahwa Tekad yang besar berbanding lurus dengan kesuksesan. 

    Kita tentu pernah berpikir tentang kesesuaian impian dengan kondisi kita. Apakah impian itu sesuai dengan passion kita? Apakah impian itu dapat didukung oleh lingkungan? Dan apakah saya mampu dengan impian itu? Dengan problematika seperti itu, kita harus menganalisisnya dengan SWOT (Strength, Weekness, Opportunities, Threat). Kita harus menganalisis kelebihan kita sebagai modal utama dalam meraih impian. Kita harus menganalisis kekurangan kita sebagai pacuan untuk menguranginya dan menutupinya dengan kelebihan-kelebihan kita yang lain. Kita harus mengetahui peluang sebagai dukungan untuk kita dalam meraih mimpi, serta kita harus mengetahui ancaman sebagai tantangan bagi kita untuk melawannya. Sehingga dengan terjawabnya 4 persoalan tersebut, maka dapat terjawab pula pertanyaan “Apakah impian itu sesuai dengan kita?”.

    Dalam perspektif Agama, bertekad dapat dikatakan dengan “Tawakkal”. Kita tahu bahwa tawakkal adalah berserah diri kepada Allah. Apakah ini berarti kita berserah diri dengan diam tanpa usaha? Bukan seperti itu.  Inti dari tawakkal adalah berserah diri kepada Allah setelah berikhtiar maksimal. Sehingga setelah kita berikhtiar maksimal, Allah lah yang menentukan apakah impian kita akan terwujud. Kita semua percaya bahwa semua impian akan terwujud. Semua impian akan tercapai. Namun kembali lagi, Allah Sang Good Planner. Allah yang berhak menentukan kapan impian itu akan terwujud. Bisa jadi itu tidak baik untuk kita, namun itu baik bagi Allah. Begitupun sebaliknya. Jadi intinya, kita harus benar-benar bertawakkal kepada Allah atas segala sesuatu.

    Dalam SWOT disebutkan “Threat” yang berarti ancaman. Tentu dalam berproses meraih mimpi, banyak sekali ancaman yang datang yang biasanya dapat menyurutkan semangat dalam meraih tujuan, baik itu internal maupun eksternal. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemalasan sering sekali melanda kita, yang kadangkala membuat kita sejenak melupakan mimpi kita. Namun kita harus tetap fokus menatap impian kita. Kita harus sadar bahwa disaat kita sedang bermalas-malasan, maka saat itu lawan-lawan kita sedang rajin dan tekun. Kadangkala kita terlalu percaya diri dan ambisius dalam meraih mimpi. Padahal dengan kita terlalu berambisius, kita akan merasa lebih terpuruk ketika impian itu tertunda. Kita harus memiliki landasan ideal yaitu “kegagalan bukanlah suatu kehancuran melainkan suatu impian yang tertunda”. Sehingga ini akan membuat kita termotivasi untuk belajar dari kekurangan-kekurangan dan menyiapkan usaha berkali lipat dari sebelumnya.

    Bismillah.. Semua impian akan terwujud. Kita percaya Allah Sang Best Planner. Yang menjadi tugas kita adalah bertekad kuat diiringi kesungguhan dan usaha nyata. Kita harus menghadapi segala tantangan dan rintangan. Kita harus melawan rasa malas. Kita harus bersiap untuk menghadapi masa depan gemilang. 

    There is always a light in tunnel.-

    Continue Reading
    Impian Tak akan Selalu Menjadi Impian

    Logo Program Siswa Mengenal Nusantara (sebelum perubahan)



    Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang berdiri di kawasan khatulistiwa dengan pesona keanekaragaman serta pemandangan yang menakjubkan. Jika kita ingin menghitung kebudayaan serta pesona Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke, tentu kita tidak akan sanggup mewujudkan keinginan itu. Atas dasar itulah, Kementerian BUMN menyelenggarakan sebuah program hebat “Siswa Mengenal Nusantara 2017” yang akan memperkenalkan keberagaman kebudayaan serta pesona Indonesia kepada para generasi muda selaku agent of development. Tentu tidak ada yang tidak tertarik dengan program tersebut, termasuk saya. Saya  Moch. Izzul Haq Al Ma’ruf lahir di Nganjuk, 28 Januari 2000. Meskipun berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, namun keterbatasan ini tidak membuat saya terbatasi. Justru lebih memotivasi saya untuk terus berkarya menggapai cita-cita. Saya bersekolah di SMAN 1 Tanjunganom, sebuah sekolah yang telah menyandang gelar Adiwiyata Mandiri tahun 2016, dengan visi sekolah “Beriman dan Bertaqwa, Berkepribadian Luhur, Berprestasi, Terampil dan Berwawasan Lingkungan”. Visi sekolah bukan hanya sekadar ungkapan, melainkan sebuah harapan dan cita-cita. Mewujudkan visi  sekolah merupakan sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab itulah yang memotivasi saya mengikuti program Siswa Mengenal Nusantara tahun 2017.

    Saya pernah membaca sebuah ungkapan dari Bung Karno yang sangat memotivasi “Apabila ingin mutiara, maka harus berani terjun di lautan dalam”. Apa hikmah yang dapat diambil dari ungkapan tersebut?, jawabnya adalah banyak hal yang dapat kita petik. Untuk menggapai cita-cita, kita harus berani mengambil resiko yang tidak kecil. Rintangan, halangan serta kegagalan tentunya akan terus berjalan mengiringi kita.   Apabila di dalam diri kita masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat sesuatu, maka hasilnya adalah malu dan takut itu sendiri. Tuhan telah menakdirkan kita pada suatu hal, namun hal itu tak akan pernah terwujud jika kita hanya diam tanpa usaha. Dengan semangat “Man Jadda Wajada”, saya telah membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak akan membuat kita terbatasi untuk meraih ribuan prestasi. Dengan kegigihan usaha, hal yang menurut saya hanya sebuah impian, kini menjadi sebuah kenyataan. Saya dapat meraih NUN tertinggi se Kabupaten Nganjuk pada tahun 2015. Pencapaian yang mungkin menurut sebagian orang mustahil didapatkan oleh seorang anak dengan keterbatasan ekonomi, namun saya dapat mematahkan opini mereka dengan pencapaian ini. Saya percaya tidak ada hasil yang mengkhianati usaha dan saya percaya Tuhan akan  selalu menyertai di setiap langkah kita.

    Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh sekolah untuk mengikuti seleksi Siswa Mengenal Nusantara 2017. Sebuah kesempatan  yang tidak semua siswa dapat memilikinya. Saya sangat antusias mengikuti program tersebut karena di samping mewujudkan visi sekolah, ini merupakan sebuah perwujudan bakti saya terhadap negeri tercinta ini. Membangun jiwa kompetisi serta kerja keras merupakan salah satu alasannya. Saya bertekad untuk mengikuti program Siswa Mengenal Nusantara 2017 karena tentunya sebuah pengalaman berharga akan tercipta melalui keikutsertaan saya dalam program tersebut. Pengalaman berharga akan keberagaman Nusantara akan memupuk rasa percaya diri kita sebagai bangsa yang besar. Bangsa yang besar merupakan bangsa yang percaya akan kekuatan dirinya. Saya percaya keberagaman Indonesia tidak akan membuat kita berbeda, melainkan membuat kita berdiri kokoh di atas perbedaan itu. Dengan semangat kerja keras, doa orang tua serta ridho Tuhan, saya yakin impian tak akan selalu menjadi impian. Mengikuti  program Siswa Mengenal Nusantara 2017 merupakan impian saya, semoga impian itu menjadi sebuah kenyataan. Amin.



    Continue Reading
    Older
    Stories

    Total Pengunjung

    About Writer

    Photo Profile
    Izzulhaq Al Ma'ruf

    6th Semester Physics Student of Universitas Gadjah Mada, awarded as Most Outstanding Student of FMIPA UGM, who has interest in social science project and material physics. In Future, will be a material scientist and create a social science community for my hometown and nation. Read More







    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Artikel Beasiswa Coretan Esai Idul Adha Motivasi Muda Anjuk Ladang Pengalaman Resume Tanoto Teladan Tips dan Trik UGM

    recent posts

    Blog Archive

    • Agustus 2020 (1)
    • Juli 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Juli 2019 (1)
    • Desember 2018 (2)
    • September 2017 (1)
    • Agustus 2017 (1)
    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top